OPINI || SF – Fenomena memilih perguruan tinggi tanpa mengetahui status akreditasinya kini semakin marak terjadi. Banyak calon mahasiswa yang lebih terpesona oleh gedung megah, popularitas kampus, atau sekadar mengikuti teman, tanpa pernah bertanya: “Seberapa baik sebenarnya kualitas pendidikan di sini?”
Akreditasi sejatinya adalah cermin kualitas sebuah institusi pendidikan. Ia lahir dari proses penilaian komprehensif terhadap kurikulum, kualitas pengajar, fasilitas, tata kelola, hingga penelitian. Layaknya sertifikasi halal pada makanan, akreditasi menjadi jaminan bahwa “produk” pendidikan yang ditawarkan telah memenuhi standar nasional. Memilih kampus tanpa melihat akreditasinya ibarat membeli kendaraan tanpa mengetahui kelayakan jalannya boleh saja, tapi risikonya sangat besar.
Konsekuensi dari ketidaktahuan ini tidak main-main. Ijazah dari program studi dengan akreditasi rendah kerap dipandang sebelah mata oleh perusahaan.
Bukan tanpa alasan akreditasi rendah sering mencerminkan kurikulum yang tidak mutakhir atau kualitas lulusan yang belum teruji. Di era persaingan ketat, lulusan dari prodi terakreditasi unggul jelas memiliki nilai tawar lebih tinggi.
Lebih jauh lagi, pertukaran pelajar, program beasiswa, hingga kesempatan studi lanjut seringkali mensyaratkan akreditasi minimal. Tanpanya, banyak pintu kesempatan tertutup rapat.
Budaya FOMO (Fear of Missing Out) turut berkontribusi pada fenomena ini. Banyak calon mahasiswa takut dianggap “ketinggalan” jika tidak kuliah di kampus populer, tanpa peduli pada substansi kualitasnya. Informasi akreditasi yang tersebar di situs BAN-PT atau direktori perguruan tinggi sering diabaikan karena dianggap rumit.
Ironisnya, sebagian masyarakat masih terjebak dalam paradigma lama: yang penting kuliah, asal dapat gelar. Padahal di era digital seperti sekarang, pengetahuan bisa diperoleh dari mana saja yang membedakan adalah bagaimana institusi pendidikan mengelola dan mentransformasikannya menjadi kompetensi.
Sudah saatnya kita membangun kesadaran kolektif bahwa memilih kampus adalah investasi jangka panjang. Edukasi tentang pentingnya akreditasi harus dimulai sejak bangku SMA, melibatkan guru BK, alumni, dan orang tua. Kunjungan ke kampus idealnya tidak sekadar berfoto di tempat ikonik, tapi juga menggali informasi tentang kurikulum dan prospek lulusan.
Pemerintah dan media juga perlu berperan aktif menyosialisasikan informasi akreditasi dengan bahasa yang lebih membumi. Data akreditasi yang selama ini tersaji dalam tabel-tabel birokratis bisa dikemas ulang menjadi infografis menarik atau konten media sosial yang mudah dicerna generasi muda.
Kuliah adalah salah satu keputusan terpenting dalam hidup. Jangan biarkan diri kita menjadi korban trend sesaat atau sekadar mengikuti arus tanpa arah.
Akreditasi mungkin bukan satu-satunya faktor, tapi ia adalah indikator penting yang tidak boleh diabaikan. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar gelar, melainkan jaminan bahwa waktu, biaya, dan tenaga yang kita investasikan benar-benar menghasilkan kualitas yang sepadan. (Fahrur Anbar Fathoni)













