SUMENEP || SF – Keluhan wali siswa terhadap kualitas menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur Yayasan Alif kian memuncak.
Temuan salak busuk yang kembali dibagikan kepada siswa pada Senin (6/4) dinilai sebagai bukti bahwa pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut tidak menunjukkan itikad perbaikan.
Peristiwa yang sama sebelumnya telah disorot dan diprotes wali siswa. Namun, pengulangan dengan pola serupa membuat masyarakat menilai dapur tersebut seolah menutup mata dan telinga terhadap kritik.
“Kalau sudah diingatkan, disorot media, tapi tetap diulang, ini bukan lagi lalai. Ini bentuk ketidakpedulian terhadap kesehatan anak-anak,” ujar salah satu wali siswa, Senin (6/4/2026).
Menu yang diterima siswa masih berupa nasi putih, telur goreng, tahu goreng, irisan mentimun dan tomat, sambal, serta satu buah salak. Namun salak yang diterima dalam kondisi lembek, berbau, dan tidak layak konsumsi.
Wali siswa dan tokoh masyarakat kini tidak lagi hanya menuntut evaluasi, tetapi mendesak langkah tegas: SPPG Yayasan Alif Batuputih diminta segera ditutup sebelum menimbulkan risiko kesehatan bagi siswa.
Sorotan juga diarahkan kepada fungsi pengawasan SPI dan Satgas SPPG. Masyarakat mempertanyakan efektivitas pengawasan jika temuan yang sama bisa terulang tanpa ada tindakan nyata.
“Kalau pengawasan berjalan, tidak mungkin kejadian seperti ini terulang. Karena itu kami minta bukan sekadar teguran, tapi penutupan dapur ini,” tegas seorang tokoh masyarakat.
Hingga berita ini ditulis, Kepala dapur SPPG Yayasan Alif belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon belum mendapat respons.
Masyarakat berharap pihak berwenang tidak lagi bersikap lunak. Penutupan dapur dinilai sebagai langkah paling realistis demi menjaga kualitas pelaksanaan MBG serta melindungi kesehatan para siswa. (Asmuni)













