SUMENEP || SF – Geger, program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDIT Alhidayah, Desa Pengarangan, kembali memantik amarah. Menu yang tersaji pada 4 Desember 2025 disebut menyimpang jauh dari standar gizi.
Isinya cuma kentang goreng, saus saset, dan seiris mentimun. Wali murid menyebut hidangan itu lebih mirip lauk darurat, bukan menu program nasional bernilai triliunan.
“Inilah yang paling parah. Sejauh ini belum pernah seheboh ini,” tegas seorang wali murid.
Kekecewaan berubah jadi tuntutan. Para orang tua mendesak Korcam dan Korwil menerbitkan laporan khusus terkait dapur penyedia (SPPG).
Mereka menilai dapur itu tak kompeten, tak layak dipercaya, dan harus ditutup sementara sampai ada audit resmi.
Kecurigaan makin menguat setelah muncul informasi bahwa suplayer dibayar lima hari setelah pengiriman barang.
Jika benar, pola pembayaran seperti itu, tindakan tersebut diduga menyalahi mekanisme pembayaran dan menambah panjang daftar kejanggalan implementasi MBG di ujung timur pulau Madura.
“Ini sudah kelewatan. Bukan lagi soal rasa, tapi soal tanggung jawab,” sambung wali murid lainnya.
Deretan keluhan membuat implementasi MBG di Sumenep kembali berada di lampu merah.
Hingga berita ini diturunkan, SuaraFaktual.id masih mencoba menghubungi fasilitator dan ahli gizi di sekolah tersebut untuk meminta klarifikasi. (Asmuni)













