SUMENEP || SF – Misteri kematian salah satu warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II-B Sumenep, Jawa Timur, berinisial N, asal Kecamatan Pragaan, pada 20 November 2025, semakin penuh teka-teki.
Keluarga korban sebelumnya mendapat penjelasan dari pihak rutan bahwa N sempat mendapat perawatan medis di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep sebelum menghembuskan napas terakhir.
Namun, pengakuan tersebut diduga tidak sepenuhnya benar. Saat SuaraFaktual.id melakukan konfirmasi kepada Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar, Erliyati, justru terungkap fakta berbeda.
Ia memastikan bahwa N belum sempat mendapatkan pertolongan medis apa pun.
Menurut informasi yang diterimanya dari petugas Unit Gawat Darurat (UGD), warga binaan tersebut sudah dalam kondisi meninggal dunia ketika tiba di rumah sakit.
“Menurut info dari petugas UGD, saat tiba di UGD RSUD, korban sudah dalam keadaan DOA (meninggal dunia),” ujar Erliyati kepada SuaraFaktual.id, Selasa (25/11/2025).
Ketika disinggung apakah pihak rutan meminta dilakukan visum terhadap jenazah N prosedur standar dalam setiap kasus kematian di dalam rutan Erliyati menegaskan bahwa tidak ada satu pun permintaan visum yang diajukan.
“Saat itu tidak ada permintaan visum,” jelasnya.
Padahal, ketentuan resmi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan mengatur standar operasional ketat terkait kondisi kesehatan dan penanganan kematian warga binaan.
Seperti: Pemantauan kesehatan berkala, penanganan medis darurat serta rujukan resmi ketika kritis, visum et-repertum wajib untuk setiap kematian warga binaan, dan proses serah-terima jenazah yang transparan serta terdokumentasi dengan baik.
Namun dalam kasus N, hampir seluruh prosedur itu justru menjadi tanda tanya besar.
Tidak ada rekam medis. Tidak jelas kronologi penanganan sebelum dibawa ke rumah sakit. Tidak ada visum serta keterangan medis resmi yang menjelaskan penyebab kematian. Proses pemulangan jenazah kepada keluarga pun dinilai minim transparansi.
Sementara itu, pihak rutan kembali memilih bungkam.
Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Sumenep, Teguh Dony Efendi yang sebelumnya aktif memberi klarifikasi ke beberapa media mendadak menghindari konfirmasi dan tidak memberikan penjelasan apa pun terkait perkembangan kasus tersebut.
Hingga kini, kematian N masih menyisakan banyak kejanggalan, memperkuat dugaan adanya ketidakwajaran dalam penanganan kesehatan dan administrasi kematian warga binaan di dalam rutan.
Keluarga dan publik pun menunggu keberanian pihak rutan untuk membuka fakta sebenarnya. (Asmuni)













