SUMENEP || SF – Aroma busuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyengat hidung publik.
Ironisnya, bukan lantaran cita rasa menunya yang baik, melainkan kualitas penyajiannya yang kian hancur-hancuran, jauh dari kata layak standar program prioritas presiden.
Kali ini keluhan itu datang dari orang tua siswa SMP Negeri 1 Sumenep, yang beralamat di Jl. Payudan Barat No.7, Mastasek, Pabian, Kecamatan Kota, Sumenep, Jawa Timur.
Salah satu orang tua mengaku, pada Kamis, 4 Desember 2025, anaknya hanya menerima kentang goreng, saus sachet, satu buah pisang, dan seiris mentimun—menu yang bahkan tidak layak disebut “bergizi”, apalagi “program nasional”.
“Ini program presiden kok begini? Rasanya ada sesuatu yang tidak beres, kayak memikirkan hasil pribadi,” keluhnya kepada SuaraFaktual.id.
“Informasinya menunya komplit, tapi faktanya banyak yang kurang, Mas,” cetusnya.
Ia bahkan mengaku sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah orang tua lainnya, dan pengakuan mereka sama-sama miris.
Rentetan masalah penyaluran MBG di berbagai tempat kini makin terlihat seperti pola, bukan kebetulan.
Entah ketidaksiapan, entah kelalaian, atau sesuatu yang lebih jauh dari itu—yang jelas, dengan adanya hal tersebut yang dikorbankan adalah anak-anak sekolah yang bahkan tidak punya hak untuk memilih.
Program yang digembar-gemborkan sebagai pilar perbaikan gizi nasional malah tampak rapuh, remuk, dan kehilangan ruhnya, digantikan oleh menu yang tak berbeda dari guyonan pahit.
Hingga berita ini diturunkan, SuaraFaktual.id masih kesulitan mendapatkan keterangan resmi dari pihak terkait. (Asmuni)













