Example floating
Example floating
OpiniPeristiwa

Kematian N di Rutan Sumenep, Tragedi yang Teriaknya Dikubur Sebelum Jasadnya

58
×

Kematian N di Rutan Sumenep, Tragedi yang Teriaknya Dikubur Sebelum Jasadnya

Sebarkan artikel ini
Kematian N di Rutan Sumenep, Tragedi yang Teriaknya Dikubur Sebelum Jasadnya
Dok. Rutan Kelas IIB Sumenep, //SuaraFaktual.id

SUMENEP || SF – Aroma busuk yang menyertai kematian warga binaan N (24), asal Pragaan, di Rutan Kelas IIB Sumenep, bukan hanya berasal dari tubuh yang tak lagi bernyawa melainkan dari keheningan resmi yang mengelilinginya.

Diam yang lebih menyengat daripada kabar duka itu sendiri, terus memancing kecurigaan publik.

Publik tidak sekadar mempertanyakan kronologi. Mereka mempertanyakan kenapa penjelasan negara begitu lirih, seolah ada sesuatu yang sengaja diredam.

Dokumen internal Rutan justru membuka satu fakta yang semakin sulit diterima logika. Seluruh cerita kematian ini berdiri di atas satu saksi saja WBP berinisial R.

Satu orang, satu suara, di tempat yang semestinya dipenuhi kamera, kontrol, dan prosedur.

Narasi bahwa N “terpental” akibat sengatan listrik terasa terlalu rapi untuk menjelaskan hilangnya satu nyawa. Terlalu rapi, terlalu datar, terlalu ringan untuk menutup tragedi.

Ketika fasilitas berpengawasan ketat hanya menyisakan satu keterangan, publik tidak melihat sekadar celah. Mereka melihat ruang gelap-gelap yang terlalu lebar untuk tidak dicurigai.

Kecurigaan publik semakin menguat lantaran dua dokumen resmi justru menampilkan dua waktu kematian berbeda: 22.12 WIB dalam laporan dokter RSUD, dan 23.00 WIB dalam Berita Acara Penyerahan Jenazah. Selisih waktu hampir satu jam itu menggantung tanpa penjelasan.

Dalam beberapa kasus kematian tahanan, waktu bukan sekadar angka, ia adalah jejak. Dan jejak yang tidak sinkron sering kali menunjukkan ada langkah yang tidak terlihat.

Kini publik semakin gelisah bukan hanya ketidaksesuaian, tetapi diamnya detail-detail penting yang seharusnya dijelaskan.

Tidak ada uraian kondisi fisik korban saat pertama ditemukan, tidak ada gambaran tindakan medis awal di Rutan, tidak ada visum independen, dan tidak adanya keterangan apakah keluarga diberi pilihan untuk menolak atau meminta pemeriksaan lanjutan.

Padahal semakin sedikit yang diungkap, semakin tebal kecurigaan publik atas apa yang sebenarnya terjadi saat itu.

Publik merasa seolah-olah sedang membaca kronologi yang kehilangan halaman-halaman penting.

Dan ketika negara menyampaikan penjelasan yang terlalu tipis, terlalu rapi, atau terlalu sepi dari dukungan data, wajar bila publik menilai bukan sekadar kelalaian melainkan ketiadaan transparansi.

Dalam kasus kematian di bawah penguasaan negara, setiap detail yang tidak dibuka akan menjadi bayang-bayang. Dan bayang-bayang itulah yang kini menutupi kematian N, gelap, menggantung, dan penuh ruang yang belum dijelaskan. (Asmuni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *