SUMENEP || SF – Kecamatan Arjasa, Kepulauan Kangean, pada hari Selasa, 07 Oktober 2025, menjadi bukti tambahan buramnya dunia pendidikan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Suasana tenang proses belajar tiba-tiba berubah menjadi kepanikan luar biasa di SDN Pandeman II.
Bagian atas bangunan sekolah mendadak runtuh, hanya beberapa meter dari tempat siswa belajar.
Detik itu juga, seluruh guru terpaku karena bila para siswa berada di dalam kelas, KANGEAN mungkin sudah berkabung hari itu.
Rangka atap yang rapuh, plafon yang lama menggantung dalam kondisi lapuk, akhirnya menyerah.
Material kayu dan pecahan plafon berjatuhan menghantam lantai. Para guru berteriak panik, siswa menangis ketakutan.
Mengingat runtuhan itu bukan sekadar peristiwa itu adalah peringatan keras tentang betapa terabaikannya pendidikan di wilayah Kepulauan.
Bangunan SDN Pandeman II kini rusak berat, hampir tidak layak disebut ruang pendidikan.
Atapnya mengancam ambruk setiap saat, rangka-rangkanya lapuk, dan plafonnya retak dari ujung ke ujung, menunggu waktu jatuh.
Ini bukan bencana alam. Ini bencana kelalaian. Bencana pembiaran.
Masyarakat Pandeman sudah berulang kali meminta perhatian. Guru-guru bertahan mengajar dengan rasa takut setiap hari.
Siswa harus belajar di luar kelas, bukan karena kegiatan outdoor, tapi karena masuk kelas sama saja masuk perangkap maut.
Yang lebih menyakitkan, kejadian seperti ini bukan sekali dua kali terjadi di Kangean. Setiap tahun ada sekolah roboh, retak, amblas seolah-olah nyawa anak-anak kepulauan tidak ada harganya.
Pertanyaannya sederhana:
Sampai kapan pemerintah membiarkan anak-anak ini belajar di bawah ancaman maut?
Haruskah ada korban jiwa dulu baru ada tindakan?
“Sedikit saja waktunya meleset, puluhan siswa bisa menjadi korban,” ujar warga setempat terhadap SuaraFaktual.id (18/11/25).
SDN Pandeman II hari ini menjadi bukti telanjang bahwa ketimpangan pembangunan pendidikan semakin nyata. Dan jika tidak segera ditangani, maka tragedi yang lebih besar hanya tinggal menunggu waktu. (Asmuni)













