Example floating
Example floating
BeritaDaerah

NU–Muhammadiyah Kian Mesra di Konfercab 2025

112
×

NU–Muhammadiyah Kian Mesra di Konfercab 2025

Sebarkan artikel ini
NU–Muhammadiyah Kian Mesra di Konfercab 2025
Dok. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sumenep, Dr. Moh. Zeinudin, (kanan). //SuaraFaktual.id

SUMENEP || SF – Konferensi Cabang (Konfercab) NU 2025 di Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur, Ahad (7/12), berlangsung hangat dan mesra.

Kehadiran Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sumenep, Dr. Moh. Zeinudin, menjadi sorotan karena menunjukkan harmonisasi dua ormas Islam terbesar di ujung timur Madura.

Ketua PCNU Sumenep, K.H. Panji Taufik, secara khusus menyapa dan mengapresiasi sinergi yang terjalin.

“Di era kepemimpinan kami, NU selalu bersinergi dengan Muhammadiyah. Bersama menjaga Sumenep dan memajukan daerah,” tegas, Taufiq, di depan peserta Konfercab.

Kedekatan personal kedua pimpinan juga disinggung Panji. Ia menyebut komunikasi dan kerja sama dengan Dr. Zein berjalan intens dalam berbagai program sosial-kemasyarakatan.

Pengasuh Pesantren Annuqayah yang juga tokoh PBNU, Prof. Dr. H. A’ala, menegaskan bahwa NU dan Muhammadiyah adalah kekuatan sosial paling strategis di Sumenep.

Menurut dia, pemerintah daerah perlu memberi ruang kolaborasi lebih besar kepada dua ormas tersebut.

“Jika ingin membangun Sumenep secara utuh, pemerintah harus menggandeng NU dan Muhammadiyah,” ujarnya.

Wakil Bupati Sumenep, K.H. Imam Hasyim, menambahkan nuansa keakraban dalam forum tersebut. Ia menegaskan kedekatannya dengan Ketua PD Muhammadiyah.

“Dr. Zein adalah teman akrab saya. Kami siap bersinergi menata Sumenep,” ucapnya.

Kehadiran pimpinan Muhammadiyah dalam forum resmi NU tingkat kabupaten ini dinilai sebagai simbol kuatnya harmoni antarormas di Sumenep.

Kedua organisasi selama ini dikenal kompak dalam isu pendidikan, sosial, kemanusiaan, hingga persoalan masyarakat akar rumput.

Dengan tema “Satu Fikrah, Satu Harakah”, Konfercab NU 2025 tak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga momentum peneguhan persaudaraan antarormas Islam.

Publik menilai kekompakan NU–Muhammadiyah sebagai modal sosial penting untuk menjaga stabilitas, memperkuat harmoni, dan mendorong pembangunan daerah. (Asmuni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *