SUMENEP || SF – Jalan penghubung utama Desa Bataal Barat, Kecamatan Ganding, menuju Pasar Tradisional Ganding kian menghawatirkan.
Kerusakan yang dibiarkan berlarut-larut itu kini bukan sekadar mengganggu kenyamanan, tetapi mulai melumpuhkan aktivitas ekonomi warga.
Kondisi jalan berlubang dan tidak rata dikeluhkan para pengendara, terutama pedagang dan pembeli yang setiap hari menggantungkan aktivitasnya di pasar tersebut.
Mereka harus ekstra hati-hati melintas, bahkan tak jarang mengalami kecelakaan saat musim hujan, akibat akses jalan licin dan sulit dilalui.
“Ini sudah lama, mas. Kondisi jalan semakin hari semakin mengkhawatirkan,” ujar Indri, pengguna jalan saat ditemui, SuaraFaktual.id, Minggu, (19/4/26).
Menurut, wanita pelajar, yang mengaku masih menduduki bangku SMA itu, dampaknya tidak main-main.
Pelaku usaha kecil menjadi korban paling terasa, seperti distribusi barang tersendat, biaya operasional meningkat, dan pembeli mulai enggan datang.
“Kalau aksesnya begini, orang juga mikir dua kali mau ke pasar,” ujarnya.
Ia juga mengaku dengan adanya kerusakan jalan tersebut, tak hanya berdampak pada ekonomi, melainkan juga mengganggu akses pendidikan.
Para pelajar yang melintasi jalur itu harus berjibaku dengan kondisi jalan yang berbahaya, terutama saat musim hujan.
Ironisnya, keluhan warga seolah tak bergaung. Indri menilai pemerintah desa setempat belum menunjukkan kepekaan terhadap kondisi yang kian memburuk.
“Sudah sering dikeluhkan, tapi belum ada tindakan nyata,” tegasnya.
Upaya konfirmasi kepada Kepala Desa Bataal Timur, Jayyidah, hingga berita ini diturunkan belum membuahkan hasil lantaran mengalami beberapa kebuntuan.
Bagi masyarakat Bataal Barat, jalan itu bukan sekadar infrastruktur, ia adalah urat nadi kehidupan.
Ketika akses itu rusak dan dibiarkan, yang ikut runtuh bukan hanya jalan—tetapi juga harapan warga untuk hidup lebih layak. (Asmuni)













