Example floating
Example floating
BeritaPeristiwa

Jalan Utama Rusak Parah, GIP Sorot Sikap Bupati Sumenep dan Kepala Desa Karanganyar

59
×

Jalan Utama Rusak Parah, GIP Sorot Sikap Bupati Sumenep dan Kepala Desa Karanganyar

Sebarkan artikel ini
Jalan Utama Rusak Parah, GIP Sorot Sikap Bupati Sumenep dan Kepala Desa Karanganyar
Dok. Jalan kabupaten yang menjadi urat nadi mobilitas dan ekonomi masyarakat itu dibiarkan rusak parah selama bertahun-tahun. //SuaraFaktual.id

SUMENEP || SF – Kesabaran warga Desa Karanganyar dan Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, akhirnya habis.

Jalan kabupaten yang menjadi urat nadi mobilitas dan ekonomi masyarakat itu dibiarkan rusak parah selama bertahun-tahun tanpa penanganan berarti. Pemerintah daerah pun dituding “tutup mata”.

Kekecewaan itu disuarakan Gerakan Insan Peduli (GIP) yang mewakili warga dua desa tersebut.

Mereka menilai bukan hanya Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo yang abai, tetapi juga Kepala Desa Karanganyar yang dianggap gagal memperjuangkan perbaikan jalan di wilayahnya.

Kondisi jalan disebut sangat memprihatinkan. Saat hujan, genangan air menutup lubang-lubang dalam yang mengintai pengendara.

Sepeda motor kerap terperosok, mobil rusak, aktivitas ekonomi tersendat, dan keselamatan warga dipertaruhkan setiap hari.

“Ini jalan utama kabupaten, bukan gang kecil. Tapi bertahun-tahun dibiarkan. Permohonan sudah berkali-kali diajukan, hasilnya nihil. Bahkan tambal sulam pun tidak pernah,” tegas Ketua GIP, Edy Abu Jamil, Jumat (19/12/25).

Merasa tak lagi bisa berharap pada pemerintah, warga memilih bertindak sendiri. Dengan dana swadaya dari tokoh masyarakat, GIP bersama puluhan warga menggelar gotong royong memperbaiki jalan. Batu dicacah, lubang ditutup, permukaan diratakan semua dilakukan dengan peralatan seadanya.

Langkah itu sekaligus menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Di tengah gencarnya narasi pembangunan dan pemerataan infrastruktur, warga di wilayah pedalaman justru dipaksa menanggung beban sendiri untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Bupati Sumenep terkait tudingan pembiaran jalan rusak tersebut. Dinas terkait juga belum memberikan penjelasan.

Masyarakat berharap, aksi gotong royong ini tidak hanya berhenti sebagai solusi darurat, tetapi menjadi alarm keras bagi pemerintah agar tidak terus menormalisasi kelalaian.

“Kami gotong royong bukan karena mampu, tapi karena terpaksa,” ujar seorang warga dengan nada getir. (Asmuni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *