SUMENEP || SF – Polemik Pemilihan Duta Kampus Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura yang awalnya diproyeksikan sebagai panggung prestisius mahasiswa mendadak berubah menjadi drama kampus, kini memasuki babak baru yang kian memanas.
Ketua panitia, Aura Intan Wulan Dari, akhirnya angkat suara dan menepis keras tudingan pungutan liar yang selama ini menghujani panitia.
Aura menegaskan: tidak ada uang mahasiswa yang pernah dipaksa keluar. Titik.
Menurutnya, kebijakan denda hanyalah bentuk penegasan agar setiap angkatan mengirim delegasi, bukan untuk mengeruk keuntungan. Terlebih, aturan itu telah lebih dulu mendapat izin rektor.
“Kami tidak cari uang! Itu hanya aturan agar setiap angkatan mengirim delegasi. Pendelegasian, itu fokus kami!” tegas Aura dengan suara bergetar menahan kecewa.
Ia mengaku telah bekerja siang-malam dengan team kepanitiannya demi menyuguhkan acara bergengsi tersebut. Sekitar 30 sponsor sudah digandeng.
Harapan mereka sederhana namun besar, Uniba punya panggung kebanggaan yang profesional dan megah.
Sosialisasi aturan denda juga sudah dilakukan kepada seluruh ketua tingkat. Tidak ada satu pun yang menolak. Semua berjalan sesuai rencana.
Namun keadaan berubah mendadak dan dramatis ketika beredar video rektor yang menegaskan larangan praktik pungutan apa pun.
Tanpa menunda sehari pun, panitia langsung menghentikan kebijakan denda.
“Begitu ada instruksi baru, langsung kami hapus. Tidak ada satu rupiah pun yang kami tarik. No!” tekannya.
Ironisnya baru saja badai pertama mereda, badai lain mengamuk menggulung semua usaha panitia.
Seleksi tahap pertama tuntas. Peserta siap memasuki babak berikutnya. Tetapi tiba-tiba, sebuah surat keputusan (SK) datang tanpa aba-aba, menghentikan seluruh kegiatan Duta Kampus.
SK “misterius” bertanggal 19 November, ditandatangani Ketua Senat Uniba Madura, Budi Siswanto.
Tidak ada alasan. Tidak ada dialog. Tidak ada penjelasan.
Hanya diam yang memekakkan.
Kampus sontak geger. Spekulasi pun liar tak ter-arahkan.
Ada apa? Siapa yang gelisah dengan hasil seleksi ini?
Siapa yang sebenarnya merasa terancam?
Bisik-bisik di lapangan menyebut, ada calon titipan yang konon dekat dengan lingkaran elite kampus. Namanya sempat digadang-gadang bakal melenggang mulus, namun justru tersingkirkan sejak awal.
Dan sejak itu Tarik-uluran kepentingan diduga semakin sengit. Dan ketika kepentingan gagal diamankan Acara pun harus dikorbankan.
Mahasiswa terpaku. Panitia terpukul. Peserta kehilangan panggung yang sudah diperjuangkan.
Dan seluruh kampus kini diliputi pertanyaan besar: Benarkah ada tangan tak terlihat yang ingin menentukan siapa yang pantas menjadi “wajah kampus”?
Keputusan sepihak itu dinilai sebagai tamparan keras terhadap idealisme mahasiswa yang berjuang adil dan transparan.
Panitia Menuntut Keadilan: “Jangan Matikan Mimpi Kami”
Aroma drama kekuasaan makin menyengat. Panitia hanya ingin kejujuran tetap berdiri di kampus sendiri.
“Kami sudah lelah disudutkan. Kami hanya ingin acara berjalan jujur dan profesional,” ucap Aura lirih namun tegar, Sabtu (22/11/25). (Asmuni)

